Hari Ginjal Sedunia, Shandy : Masyarakat Lubuklinggau Diminta Waspada Penyakit Ginjal, Kini Rutin Cuci Darah Di RS AR Bunda
Hari Ginjal Sedunia, Shandy : Masyarakat Lubuklinggau Diminta Waspada Penyakit Ginjal, Kini Rutin Cuci Darah Di RS AR Bunda
Lubuklinggau Beritania.com-
Peringatan Hari Ginjal Sedunia yang jatuh pada 13 Maret 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit ginjal. Dalam peringatan tersebut, masyarakat di Kota Lubuklinggau diimbau untuk lebih waspada serta menjaga kesehatan ginjal sejak dini.
Penyakit ginjal kerap disebut sebagai silent killer karena pada tahap awal sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Banyak penderita baru menyadari ketika kondisinya sudah memasuki tahap serius dan membutuhkan penanganan medis intensif seperti cuci darah.
Ginjal merupakan organ vital yang memiliki peran penting dalam tubuh, di antaranya menyaring racun dan limbah dari darah, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu mengontrol tekanan darah. Jika fungsi ginjal terganggu, berbagai komplikasi kesehatan dapat terjadi.
Tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat agar mulai menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan. Di antaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengurangi konsumsi garam dan gula, rutin berolahraga, serta memperbanyak minum air putih.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin juga sangat dianjurkan, terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti penderita diabetes, hipertensi, atau memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga.
*BPJS Kesehatan Ringankan Beban Pengobatan
Berkat kepesertaan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) BPJS Kesehatan, Agus Astanti, warga Lubuklinggau, dapat menjalani perawatan intensif di rumah sakit tanpa terbebani biaya pengobatan.
Suami Agus Astanti, Dona April Shandi, mengungkapkan bahwa dirinya sangat terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan. Selama istrinya menjalani perawatan di RS AR Bunda Lubuklinggau hingga dirujuk ke RSUD Palembang BARI, seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS.
“Alhamdulillah dari sisi biaya rumah sakit semuanya terselamatkan oleh BPJS Kesehatan. Bayangkan saja kalau saya tidak punya BPJS, pasti besar sekali biayanya, apalagi untuk sekali cuci Darah mencapai Rp 1.500.000,- sekali cuci Darah,” ujar Shandi.
Ia pun mengaku sangat berterima kasih kepada pemerintah atas program jaminan kesehatan tersebut yang dinilai sangat membantu masyarakat.
“Saya membayangkan bagaimana mau berobat kalau tidak ada kartu KIS. Alhamdulillah ada KIS atau BPJS Kesehatan, jadi untuk berobat tidak menjadi beban pikiran lagi,” tambahnya.
Shandi menjelaskan, pada 13 Juli 2024 malam, istrinya dilarikan ke RS AR Bunda Lubuklinggau karena mengalami sesak napas. Setelah menjalani pemeriksaan oleh tim dokter, Agus Astanti didiagnosis mengalami penyakit jantung dan gangguan atau gagal ginjal.
Pada Senin siang, 15 Juli 2024, pihak rumah sakit menyarankan agar pasien dirujuk ke RSUD Palembang BARI untuk mendapatkan perawatan lebih intensif sekaligus menjalani prosedur cuci darah.
“Saya sempat bertanya apakah kalau dirujuk ke Palembang BPJS tetap bisa dipakai untuk cuci darah. Ternyata bisa, akhirnya kami berangkat ke RSUD Palembang BARI,” jelasnya.
Di rumah sakit tersebut, Agus menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis penyakit dalam, kemudian dilakukan transfusi darah sebelum akhirnya menjalani prosedur cuci darah.
Menurut Shandi, meskipun istrinya merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan, pelayanan yang diterima tetap baik dan tidak ada perbedaan dengan pasien lainnya.
“Pelayanannya baik, perawat juga cepat tanggap. Tidak ada perbedaan antara pasien BPJS gratis dengan BPJS mandiri,” katanya.
Ia pun bersyukur karena kondisi istrinya kini sudah berangsur membaik dan dapat melanjutkan kontrol pengobatan di RS AR Bunda Lubuklinggau.
“Sekarang kondisinya sudah membaik dan sudah bisa pulang ke rumah. Selanjutnya kontrol lagi di RS AR Bunda. Mohon doanya agar istri saya cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa, walupun dengan rutin cuci darah seminggu dua kali” tuturnya.
*Pemkot Targetkan UHC 98 Persen
Sementara itu, Pj Wali Kota Lubuklinggau, H. Trisko Defriyansah, mengatakan Pemerintah Kota Lubuklinggau terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta.
Pada tahun ini, Pemkot Lubuklinggau menargetkan cakupan Universal Health Coverage (UHC) mencapai 98 persen, termasuk memastikan keaktifan kepesertaan masyarakat dalam program JKN-KIS.
“Strategi implementasinya terus kita lakukan. Kita menargetkan seluruh masyarakat memiliki JKN-KIS sehingga tidak perlu khawatir lagi memikirkan biaya rumah sakit ketika sakit,” kata Trisko.
Selain mengejar target UHC, Pemkot juga terus melakukan pembenahan pelayanan kesehatan, termasuk peningkatan sarana dan prasarana puskesmas serta rumah sakit, serta penguatan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan.
“Kita tidak ingin ada pasien yang tidak dilayani dengan baik. Pelayanan harus prima dan memuaskan. Pemerintah kota tentu tidak akan tinggal diam untuk terus melakukan perbaikan pelayanan kesehatan di Kota Lubuklinggau,” pungkasnya. (snd)